MAKALAH
Teori Pasca Ketergantungan
Diajukan untuk
memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah
Perspektif Sosial Budaya
Disusun Oleh
Kelompok 7:
Uswatun Hasanah 063161111130
Rustiani Hartini 063161111143
Esa Nurlaela 063161111156
PENDIDIKAN GURU
SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI
2013
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin,
puji dan syukur kami panjatkan hanya kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat
dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Teori Pasca Ketergantungan “.Makalah ini
merupakan syarat dalam menempuh mata kuliah Perspektif Sosial Budaya.
Dalam
menyelesaikan makalah ini, kami menemui banyak hambatan dan rintangan tetapi
dengan bantuan berbagai pihak, kami dapat melewati masalah tersebut. Dalam
proses penyusunan makalah ini, tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan,
koreksidan saran, untukitu rasa terima kasih kami sampaikan kepada berbagai
pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.
Kami
menyadari bahwa pada makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena
itu penyusun mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan
makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan
khususnya bagi kami sendiri.
Sukabumi, 07 Mei 2013
penulis
|
DAFTAR ISI
halaman
KATA PENGANTAR ........................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang................................................................................................. .... 1
B.
Identifikasi Masalah.............................................................................................. 1
C.
Tujuan................................................................................................................... 1
D.
Sistematika Penulisan .......................................................................................... 2
BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Teori Pasca Ketergantungan ......................................................... .... 3
2.2 Teori Liberal ................................................................................................... .... 3
2.3 BILL
WARREN ............................................................................................ .... 4
2.4 Teori Artikulasi ............................................................................................... .... 5
2.5 Teori Sistem Dunia Menurut Immanuel Wallerstein ...................................... .... 7
BAB IIII. PENUTUP
Kesimpulan ............................................................................................................... 9
Saran ..................................................................................................................... .... 9
DAFTAR PUSTAKA
| BAB I |
|
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini kehidupan ekonomi di Negara Indonesia
sangatlah buruk, sebab hal ini timbulnya perusahaan asing sehingga bangsa
Indonesia ini tetap menjadi negara berkembang saja dan tidak mengalami
perubahan (kemajuan). Yang dimana rakyat Indonesia hanya sebagai tenaga kerja,
sedangkan orang asing sebagai pemimpin dan berkuasa. Hal ini dinamakan sebagai
Teori Ketergantungan. Munculnya Teori Pasca Ketergantungan adalah karena adanya
kelemahan-kelemahan dari Teori Ketergantungan. Sehingga Teori ini memberi
perspektif baru pada teori-teori pembangunan pada umumnya.
Salah satu Perspektif penting yang diberikan adalah bahwa
aspek eksternal dari penbangunan menjadi penting. Sebelumnya, aspek tersebut
dianggap berperan. Negara-negara lain hanya dianggap sebagai mitra dagang, yang
sering kali sangat membantu proses pembangunan yang terjadi disuatu negara.
Atau, kalupun dianggap menghambat, paling-paling karena negara itu sangat besar
kekuatan ekonominya, sehingga negara yang sedang membangun tidak bisa bersaing
melawan mereka.
1.2 Rumusan Masalah
1) Apakah Pengertian Teori Pasca Ketergantungan?
2) Apakah penyebab adanya Teori Pasca Ketergantungan?
1.3 Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui lebih dalam tentang Pengertian Teori Pasca Ketergantungan.
2.
Sebagai bahan diskusi mata kuliah Perspektif Sosial Budaya.
3.
Sebagai Pemenuhan tugas makalah mata kuliah Perspektif Sosial Budaya.
4.
Diharapkan pembaca dapat menerapkannya dalam pembuatan makalah.
1.4
SistematikaPenulisan
Disini kita akan membuat isi makalah yang terbagi dalam beberapa
sub bagian, yakni pendahuluan, isi dan penutup. Secara rincianya silahkan lihat
di bawah ini :
BAB
I Pendahuluan
·
Latar belakang
·
Rumusan makalah
·
Tujuan penulisan
·
Sistematika penulisan
BAB
III Pembahasan
·
Isi
BAB
IV Penutup
Daftar Pustaka
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Teori Pasca Ketergantungan
Teori Pasca Ketergantungan merupakan reaksi terhadap Teori Ketergantungan, tetapi belum memiliki nama
sendiri sebagai satu kelompok.
Teori ini bisa disebut sebagai Teori tentang Pembangunan, yang dimana muncul
setelah adanya Teori Ketergantungan.
2.2 Teori Liberal
Teori liberal pada dasarnya tidak banyak dipengaruhi oleh teori
ketergantungan, teori liberal tetap berjalan seperti sebelumnya yakni mengukuti
asumsi-asumsi bahwa modal dan investasi adalah masalah utama dalam mendorong
pertumbuhan ekonomi. Kritik terhadap teori liberal pada umumnya berkisar pada
ketajaman definisi dari teori ketergantungan. Definisi yang ada dianggap
terlalu kabur, sulit dijadikan sesuatu yang operasional. Tanpa kejelasan dan
ketajaman konsep-konsep dasarnya, teori ketergantungan lebih merupakan sebuah
retorika belaka. Agar konsep ketergantungan dapat di pakai untuk menyusun
teori, maka ada dua kriteria yang harus dipenuhinya, yaitu:
ü Gejala ketergantungan ini harus hanya ada di negara-negara yang ekonominya
mengalami ketergantungan dan tidak
di negara yang tidak tergantung dengan negara lain.
ü Gejala ini mempengaruhi perkembangan dan pola pembangunan di negara-negara
yang tergantung.
Dari penelitiannya terhadap aspek ekonomi dan sosiopolitik dari gejala
ketergantungan, Lall melihat bahwa gejala ini juga terdapat di negara-negara
yang dianggap tidak tergantung. Misalnya tentang dominasi modal asing. Dalam
hal ini, Kanada dan Belgia akan lebih tergantung daripada India atau Pakistan.
Tetapi sulit sekali memasukkan Kanada dan Belgia ke dalam kelompok
negara-negara yang tergantung, karena tingkat kemakmurannya yang tinggi. Baik
dominasi maupun ketergantungan merupakan gejala yang umum yang ada di
negara-negara pusat maupun pinggiran.
Teori liberal pada dasarnya tidak banyak dipengaruhi oleh teori
ketergantungan. Teori liberal tetap berjalan seperti sebelumnya, yakni
mengikuti asumsi-asumsi bahwa modal dan investasi adalah masalah utama dalam mendorong
pertumbuhan ekonomi. Teori yang dianut oleh para ahli ekonomi ini lebih
mengembangkan diri pada keterampilan teknisnya, yakni bagaimana membuat table
input-output yang baik, bagaimana mengukur keterkaitan diantara berbagai sector
ekonomi dan sebagainya. Tentu saja bukan tidak berguna. Tetapi, yang kurang
dipersoalkan adalah bagaimana faktor politik bisa dimasukkan ke dalam model
mereka.
2.3 BILL WARREN
Warren membantah inti teori
ketergantungan, yakni bahwa perkembangan kapitalisme di negara-negara pusat dan
pinggiran berbeda. Kapitalisme di negara mana pun sama. Oleh karena itu, tesis
Warren cenderung menjadi ahistoris dan dekat dengan teori para ahli ilmu sosial
liberal.
Inti dari kritik Warren adalah bahwa dalam kenyataannya, negara-negara yang
tergantung menunjukkan kemajuan dalam pertumbuhan ekonomi dan proses
industrialisasinya. Bahkan kemajuan ini menunjukkan bahwa negara-negara yang
tergantung ini sedang mengarah pada pembangunan yang mandiri.
Berlawanan dengan pandangan kaum Marxis, bukti-bukti empiris menunjukkan
bahwa prospek bagi sebuah pembangunan kapitalis yang berhasil di negara-negara
berkembang ternyata baik. Pembangunan yang berhasil di negara-negara Asia Timur
dan Tenggara dianggap sebagai salah satu bukti bahwa kapitalisme memang masih
bugar, masih terus bisa mengembangkan dirinya. Warren menunjukkan data-data
yang memperlihatkannya bahwa setelah perang dunia kedua, anggapan akan adanya
keterbelakangan di negara-negara pinggiran hanya merupakan ilusi belaka. Ada
enam pokok yang dibahasnya, yakni ; 1. Masalah PNB perkapita, 2. Masalah
kesenjangan sosial, 3. Masalah marginalisasi, dimana orang jadi tersingkir dari
lapangan kerjanya, 4. Masalah produksi yang diarahkan pada barang-barang mewah
dan bukan barang pada kebutuhan pokok, 5. Masalah industrialisasi, 6. Masalah
kapitalisme.
Dari data statistik yang dikumpulkannya, Warren membuktikan bahwa apa yang
diramalkan oleh teori ketergantungan ternyata tidak benar. Oleh karena itu, dia
menyimpulkan : “Jadi, berlawanan dengan pendapat umum yang ada, dunia ketiga
tidak mengalami kemandekan secara relatif maupun absolut setelah perang dunia
ke dua. Sebaliknya, kemajuan yang berarti dalam hal kemakmuran material dan
pembangunan kekuatan produksi telah tercapai, dengan kecepatan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan keadaan sebelum perang. Kenyataan ini juga
berlawanan dengan pandangan kaum Marxis yang menyatakan bahwa pembangunan
nasional yang mengikuti jalan kapitalis bisa terjadi di dunia ketiga”.
Bagi Warren, tidak bisa dicegah lagi bahwa kapitalisme akan berkembang dan
menggejala di semua negara di dunia ini. Baru setelah kapitalisme berkembang
sampai mencapai titik jenuhnya, perubahan ke sosialisme dimungkinkan. Karena
itu, memaksakan perubahan ke sosialisme sekarang juga merupakan hal yang
sia-sia, karena pada saat ini perkembangan kapitalisme belum mencapai titik
jenuhnya. Karena itu, perkembanngan kapitalisme di Negara-negara pinggiran
masih dimungkinkan. Pembangunan yang berhasil di Negara-negara Asia Timur (
Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura) dianggap sebagai salah satu
bukti bahwa kapitalisme memang masih tumbuh subur, masih terus bisa
mengembangkan dirinya.
2.4 Teori Artikulasi
Munculnya teori ini dikarenakan
ketidakpuasan terhadap teori ketergantungan karena pada dasarnya pembangunan
dan industrialisasi memang terjadi di negara-negara terbelakang. Pertama
dikembangkan oleh antropolog Perancis, seperti Claude Meillassoux dan Pierre
Phillippe Rey. Teori ini melihat persoalan keterbelakangan dalam lingkungan
proses produksi, artinya keterbelakangan di negara-negara Dunia Ketiga harus
dilihat sebagai kegagalan dari kapitalisme untuk berfungsi secara murni,
sebagai akibat dari adanya cara produksi lain di negara-negara tersebut.
Teori artikulasi bertitik tolak dari konsep Formasi Sosial. Dalam Marxisme
dikenal konsep cara produksi (mode of production), misalnya cara produksi
feodal, cara produksi kapitalis, dan cara produksi sosialis, yang ketiganya
memiliki perbedaan. Misal dalam kapitalisme terdapat pasar bebas, akumulasi
modal yang cepat dan sebagainya. Namun, kenyataan yang sesungguhnya dalam
masyarakat tidak hitam putih seperti itu. Adanya cara peralihan seperti dari
cara produksi feodal ke kapitalis bukan terjadi pada hitungan hari, tetapi
memakan waktu yang lama dan pada waktu peralihan yang lama inilah terjadi
percampuran dari dua atau lebih cara produksi. Oleh karena itu, gejala di mana
beberapa cara produksi ada bersama disebut dengan formasi sosial.
Jika teori ketergantungan melihat bahwa kapitalisme yang menggejala di
negara-negara pinggiran berlainan dengan kapitalisme yang menggejala di
negara-negara pusat, maka teori artikulasi berpendapat bahwa kapitalisme di
negara-negara pinggiran tidak dapat berkembang karena artikulasinya, atau
kombinasi unsur-unsurnya tidak efisien. Dengan kata lain, kegagalan dari
kapitalisme di negara-negara pinggiran bukan karena yang berkembang di sana
adalah kapitalisme yang berbeda, tetapi karena koeksistensi cara produksi
kapitalisme dengan cara produksi lainnya (kemungkinan) saling menghambat.
Teori Artikulasi bertitik tolak dari konsep formasi sosial. Dalam Marxisme
dikenal konsep cara produksi. Masing-masing cara produksi mempunyai ciri yang
berlainan dengan cara produksi lainnya. Namun dalam kenyataannya di dalam
masyarakat selalu terdapat lebih dari satu cara produksi secara bersama-sama.
Inilah yang disebut formasi sosial, yaitu gejala dimana beberapa cara
berproduksi ada bersama.
Dalam teori artikulasi kapitalisme di negara-negara pinggiran tidak bisa
berkembang karena artikulasinya atau kombinasi unsur-unsurnya tidak efisien.
Ada banyak unsur penghambatnya. Bagi teori artikulasi kegagalan dari
kapitalisme di negara-negara pinggiran bukan karena yang berkembang di sana
adalah kapitalisme yang berbeda, tetapi karena koeksistensi cara produksi
kapitalisme dengan cara produksi lainnya bersifat saling menghambat. Teori
artikulasi disebut juga sebagai teori yang memakai pendekatan cara produksi.
Pada teori ini, persoalan keterbelakangan dilihat dalam lingkungan proses
produksi. Bagi teori artikulasi, keterbelakangan di negara-negara dunia ketiga
harus di dilihat sebagai kegagalan dari kapitalisme untuk berfungsi secara
murni. Sebagai akibat dari adanya cara produksi lain di negara-negara tersebut.
2.5 Teori Sistem Dunia Menurut Immanuel
Wallerstein
Teori Sistem Dunia dari Wallerstein,
misalnya, terdapat persamaan dengan Teori Ketergantungan A.G. Frank. Keduanya
melihat negara tidak bisa dianalisis secara mandiri, terpisah dari totalitas
sistem dunia. Bedanya, Frank melihat hubungan antara negara pinggiran dan
negara pusat sebagai hubungan yang selalu merugikan negara yang pertama,
Wallerstein tidak sepesimis itu. Bagi Wallerstein, dinamika sistem dunia, yakni
kapitalisme global, selalu memberikan peluang bagi negara-negara yang ada untuk
naik atau turun klas. Sistem dunia yang dulu memberi keunggulan pada
negara-negara yang bisa menghasilkan komoditi primer, pada saat lain keunggulan
ini beralih kepada negara-negara yang mengembangkan industrinya. Sistem dunia
ini juga yang kemudian memberi kesempatan kepada negara-negara pinggiran yang
sudah siap mengambil alih kesempatan untuk melakukan produksi barang-barang
yang sudah tidak menguntungkan lagi di negara-negara pusat, karena upah buruh
yang meningkat (Budiman, 2000:111-112).
Teori Sistem Dunia sebenarnya sangat sederhana. Menurut Wallerstein, dulu
dunia dikuasai oleh sistem-sistem kecil dalam bentuk kerajaan-kerajaan mini.
Masing-masing tidak saling berhubungan, kemudian terjadi penggabungan, baik
melalui penaklukan maupun secara sukarela. Meskipun kerajaan besar itu tidak
sampai menguasai seluruh dunia, tetapi karena besarnya mampu mengendalikan
kawasannya melalui sebuah sistem politik. Tetapi sekarang, telah muncul sistem
perekonomian dunia, maka sistem politik tak lagi menjadi alat untuk menguasai
dunia, melainkan melalui pertukaran di pasar, atau yang disebut oleh
Wallerstein sebagai kapitalisme global. Kemudian ia membagi tiga kelompok
negara: Pusat, setengah-pinggiran dan pinggiran. Tetapi dinamika dari ketiga
kelompok negara ini ditentukan oleh sistem dunia. Bagi Wallerstein, semua
sistem sosial harus dilihat sebagai sebuah keseluruhan. Negara kebangsaan dalam
sebuah dunia yang modern, bukan lagi sebuah sistem yang tertutup dan karena itu
tidak bisa dianalisis seakan-akan mereka berdiri sendiri (Budiman, 2000:109).
Tetapi kritik yang diberikan kepada Teori Sistem Dunia dari Wallerstein adalah
perhatiannya yang kurang terhadap struktur internal dari negara-negara yang
ada. Dinamika utama diberikan kepada faktor-faktor eksternal. Kalau pada Teori
Ketergantungan, faktor eksternal ini adalah negara-negara pusat yang lebih
kuat, pada Teori Sistem Dunia faktor eksternal ini adalah sistem dunia yang
merupakan hasil interaksi dari negara-negara yang ada (Budiman, 2000:112).
Dengan demikian Teori Sistem Dunia dari
Wallerstein berlainan dengan Teori Artikulasi yang lebih menekankan analisisnya
pada kondisi internal yang ada di dalam negeri negara-negara yang diteliti.
Teori Artikulasi yang mula-mula dikembangkan oleh para antropolog Perancis
seperti Claude Meillassoux dan Pierre Philippe Rey, disebut juga sebagai teori
yang memakai pendekatan cara produksi. Pada teori ini, persoalan
keterbelakangan dilihat dalam lingkungan proses produksi. Menurut Teori
Artikulasi, keterbelakangan di negara-negara Dunia Ketiga harus dilihat sebagai
kegagalan dari kapitalisme untuk berfungsi secara murni, sebagai akibat dari
adanya cara produksi lain di negara-negara tersebut. Tiap-tiap negara tentunya
mempunyai kombinasi cara-cara produksi yang unik, yang satu berbeda dari yang
lainnya, sebagai akibat dari perbedaan proses perjalanan sejarah masing-masing.
Karena itu, keterbelakangan harus dipelajari secara kasus demi kasus. Dengan
prinsip inilah Teori Artikulasi menjadi lebih luwes daripada Teori Ketergantungan.
Teori Artikulasi bukan saja bisa menjelaskan gejala keterbelakangan di Dunia
Ketiga, tetapi juga mengapa bisa terjadi pembangunan di bagian dunia tersebut
(Budiman, 2000:106-107).
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Teori sistem ilmiah berlainan dengan teori artikulasi
yang lebih mementingkan analisi pada kondisi internal yang ada di negari-negara
yang di teliti. Teori Artikulasi dan teori sistem dunia merupakan dua teori
baru dalam kelompok teori-teori baru yang mencoba memecahkan masalah-masalah
yang terdapat pada teori ketergantungan. Tetapi sambil memecahkan
persoalan-persoalan yang ada, teori-teori ini juga menciptakan
persoalan-persoalan baru.
3.2 Saran
Dengan
adanya makalah ini yang telah kami buat mudah-mudahan pembaca dapat mengambil
hikmah dari meteri tentang Teori Pasca Ketergantungan, kami harap kritik yang
membangun demi menyempurnakannya makalah ini. terimakasih
Daftar
Pustaka
Ø Dr. Bidiman, Arief. 2000. Teori Pembangunan Dunia Ketiga.
Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Ø http///www.google.com





Tidak ada komentar:
Posting Komentar